![]() |
| Photo by | Mika Baumeister on Unsplash |
Sesekali, ia melihat sekeliling bundaran kampus. Matanya tampak mengawasi kalau-kalau di sekitaran area kampus ada polisi lalu lintas yang berjaga. Maklum, aksi yang akan mereka lakukan belum mengantongi ijin. Entah dari pihak kepolisian maupun pihak kampus. was-was sudah hatinya dibuat. Bagamaimana nanti kalau fakultas mengetahui salah satu mahasiswanya sengaja melakukan aksi massa dengan mencomot nama kampus tanpa seijin dari pihak kampus, bisa-bisa, karir akademiknya diperhambat. Atau, justru mendapat peringatan keras dari kampus.
“so dari tadi ngana uti ? “ sapa kawannya.
Ia mulai menghitung-hitung jumlah teman-temannya satu persatu. Sedikit bingung dan keheranan, sambil mengerutkan dahi, ia langsung menanyakan kawan-kawannya yang lain. Masak sih, untuk perkara daerah sendiri, responnya hanya berjumlah sepuluh orang?
“yang lain mana ? bo cuman ini torang ?” tanyanya.
“iyo, cuman ini. Mar ngana tenang jo. Torang ndak perlu ba orasi kok. Yang penting torang cukup ba bentangkan spanduk protes, abis itu tinggal ambil foto dengan angle yang pas kong mo muat di koran sana deng kase viral di medsos.” Jawab temannya.
“ah, masa olo cuman bagitu ?” tanggapnya penuh keraguan.
“yah memang cuman bagitu yang ti senior sarankan. Selebihnya, torang tinggal menulis kritikan di media massa”. Jawab temannya berusaha meyakinkan temannya itu.
***
Seminggu sudah mereka melakukan aksi itu. Berita-berita di koran dan media online di daerahnya banyak mengulas aksi mereka saban hari. tulisan-tulisannya bahkan sering dimuat di kolom-kolom koran. Hasil analisisnya berhasil menjadi perbincangan hangat di grup online berbasis media social, sudah hampir sejuta malahan komentar-komentar yang bermunculan di postingannya. Kedai-kedai kopipun tak luput dari obrolan-obrolan perihal aksi kemarin. Dan, tulisan-tulisannya, tetap menjadi referensi diskusi di kalangan mahasiswa yang sedang mengobrol di kedai kopi.
Sampai suatu malam, telepon genggamnya berdering. Salah seorang kawan yang sempat ikut aksi kemarin menyuruh dia untuk datang di salah satu restoran ternama yang berada di hotel berbintang lima dekat Malioboro. Diakhir percakapan, tak lupa temannya mengingatkan dia untuk membawa data-data kemarin dan berpesan berpakaian rapi lengkap dengan sepatu. Ah, dia langsung berpikir, mungkin malam ini bakalan ada evaluasi penting.
Sambil terburu-buru, ia segera mempercepat langkahnya memasuki lift hotel, angka 10 menjadi tujuan lantai yang mesti dia tuju. Sesaat, setelah pintu lift terbuka, seorang karyawan hotel meyapanya dengan santun dan langsung memandu dia menuju ruang pertemuan. Ia semakin yakin, kalau malam ini, perjuangannya bakalan terwujud.
Belum sempat ia duduk, tiba-tiba hatinya berdegub kencang. Ia mengenal sosok yang sedang duduk di ruang yang terletak di sudut meja yang menghadap ke balkon Hotel. Pejabat yang ia kritik itu, nampak berbincang-bincang hangat dengan senior dan beberapa kawan-kawannya. Asap rokok menjadi pertanda hangatnya obrolan-obrolan malam itu.
“ah, akhirnya ngana datang olo.” Sambut kawannya penuh hangat.
“duduk dulu, napa rokok. Atau pigi ba pesan jo.” Sambut kawannya yang satu.
Ia masih saja bingung, rasa-rasanya, malam ini bukan menjadi pertanda baik. Sambil linglung, ia berusaha duduk dan menerka-nerka kenapa seniornya bisa berada di Jogja tanpa sepengetahuannya. Apalagi, bersama pejabat yang sudah ia kritik habis-habisan di koran sejak seminggu lalu.
“jadi gini, Pak Susilo ini ingin bertemu dengan torang ni malam. Dia ingin, data-data yang kemarin tidak lagi jadi alat untuk menyerang program kerjanya. Bagaimanapun, pak Susilo berniat baik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berada di daerah kabupaten sana.”
“loh, kok bisa jadi begini ? maksud senior ini bagaimana ?” kali ini, ia langsung memotong pembicaraan. tak ingin basa-basi yang serba bertele-tele justru berakhir tragis.
Bagi sebagian aktivis, kata tragis merupakan perumpamaan kalau bakalan ada transaksi politik yang bakalan terjadi sebagai bentuk menghentikan aksi-aksi yang sudah mereka lakukan.
“jadi gini dek, pak Susilo ini sangat memahami aspirasi kita. Dia justru ingin sekali membantu kita. Yah, termasuk membantu biaya selama kita studi. Kau tau kan apa maksud saya ?”
Spontan, bibirnya gemetaran. Ia geram sekali mendengar perkataan seniorya. Sirna sudah perjuangannya selama ini. Sambil memencingkan mata, ia melihat wajah pejabat daerah yang nampak tersenyum menikmati pertemuan malam itu.
Sejumlah amplop coklat sudah diletakkan di depan meja. Tentu dengan ketebalan yang menggoda. Lambat laun, hatinya ingin menangis. Terbayang sudah, wajah ayahnya yang sekarang beralih profesi menjadi tukang bentor lantaran sawah milik ayahnya sudah diambil alih menjadi lahan proyek. Tentu, dengan jumlah ganti rugi yang tak seberapa untuk membiayai ke lima saudara-saudaranya.
Sayup-sayup, terdengar candaan dan puji-pujian dari mulut teman-temannya yang sengaja diselipkan di tengah-tengah obrolan mereka. Sambil menahan amarah, dalam hatinya langsung mengumpat sekeras-kerasnya, “dasar kaum makelar politik !”

Comments
Post a Comment